Rabu, 28 Desember 2011

Bismillaah.

Tahukah Kamu
(untuk adikku)

Tahukah kamu
Dirimu kini beranjak dewasa
Tiba saat untukmu mandiri
Jangan gantungkan hidupmu
Jangan manjakan dirimu pada orang lain,termasuk aku

Tahukah kamu
Kini aku semakin tua
Banyak hal t`lah aku jalani
Lebih banyak dari hal yang t`lah kau jalani
Aku menyesal,hanya sebatas ini aku bisa
Aku menyesal, dari dulu aku tak sadar

Tahukah kamu
Banyak harapku padamu
Perbaikilah segala hal yang t`lah kujalani
Cetak hasil yang lebih mengagumkan
Tak haya bagiku atau bagimu
Tapi bagi semua

Tahukah kamu
Semua ini kusampaikan padamu
Agar dirimu mau benar bersungguh
Dalam menggali ilmu dan berkarya
Yang baik tentunya

Tahukah kamu
Ini bukan aku berlagak memerintahmu
Atau hendak menguasaimu

Percayalah
Semuanya tulus dari lubuk hatiku
Sebagai bukti cinta kasih sayangku
Kepadamu….


.

Minggu, 11 Desember 2011

Puisi -I-


Kupinjam Lagu

Sering ku dengar dulu “bukan lautan hanya kolam susu”
Tapi kini “tongkat kayu dan batu” bukan lagi konotasi
Sering ku lantunkan “Pulau Kelapa nan amat subur”
Namun kenyataan tanahku kini semakin hancur
Lagu yang ku anggap dulu sekedar lagu
Nyata kini tengah terjadi
“Hutan, gunung, sawah, lautan”
Kekayaan yang tengah jadi pesakitan
Sampai kapankah? Entah
Duh, Gusti
“Dari yakinku teguh, hati ikhlasku penuh, akan karunia-Mu”
Bukanku serakah mengharap anugerah
Izinkan kami tuk bangkit jadikan negeri ini
“Jaya untuk slama-lamanya”
Hingga negeri ini benar menjadi
“Tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata”
Amin……
Negeriku hiduplah!
“Hiduplah Indonesia Raya!!!”
Eiffel, June ‘09
By : civil ‘07

Minggu, 04 Desember 2011

Jika.... (walaubelumyakin)

Tak soal kau menjadikanku yang kedua, ketiga atau keempat secara lahiriah. Yang terpenting adalah aku tau kau memposisikanku sebagai yang pertama di hatimu dan kau tau itu.

Silakan kau ajak saudari-saudariku itu berwisata ke seberang samudera menuju negeri-negeri nun jauh di sana. Melihat piramida, tembok raksasa atau taman Babylonia. Cukup bagiku kau ajak aku berkeliling Jawa, mengajakku bersilaturahmi ke rumah kerabat dan sahabat. Ini sudah sangat menyenangkan hati, kau mengakuiku sebagai isteri.

Janjiku tak muluk padamu. Hanya kan kusertakan selalu doaku untukmu di setiap doa-doaku setelah sholatku. Sebagaimana yang kulakukan untuk ayah ibu, kakak adik, guru-guru dan tiap-tiap mereka yang telah berjasa. Jika aku lupa tak berdoa setelah sholatku, itu di luar janjiku.

Dan lagi, seperti kau tau, hal lain yang kujanjikan adalah racikan teh di pagi hari. Soal menuangkannya ke cangkir atau gelas  lalu tersaji di depan atau sampingmu bisa kubicarakan bergilir dengan saudari-saudariku. Dan bila kau meminta secangkir atau segelas teh di sore hari, ini pun di luar janjiku.

Semua itu berlaku, ketika kau benar menjadi yang baik dan mendidik. Setidaknya sebagai suami bagiku dan ayah bagi anak-anak kita.

Blater, 4-12-11 ; 17.36

Senin, 17 Oktober 2011

Menjadikan Matematika (sebagai) Bahasa atau Membahasakan Matematika?


***
“Matematika adalah ratu dari ilmu dan ilmu hitung (aritmetika) adalah ratu dari matematika. Ia sering berkenan merendahkan diri menyumbang kepada astronomi dan ilmu alam lainnya, tetapi dalam setiap hubungan ia berhak mendapat peringkat pertama” (C. F. Gauss) (1)
***
Intro..
Kemarin, Sabtu (15/10), saya berkesempatan mengikuti seminar matematika yang diadakan rekan-rekan HIMATIKA UNSOED. Seminar ini merupakan rangkaian acara lanjutan dari olimpiade matematika yang diperuntukkan bagi siswa-siswi SMP dan SMA se-Karesidenan Banyumas, Kedu dan Pekalongan. Tema utamanya adalah “Build World with Mathematic”.  Dan khusus untuk seminar mengangkat tema “Mathematics for Life”.

Dibuka dengan sangat menarik (menurut saya). Dengan tiga pembawa acara dalam tiga bahasa yang berbeda; Jawa, Indonesia dan Inggris. Rangkaian acara pembuka yang agamis-nasionalis membuat saya tidak menyesal karena lebih memilih seminar ini daripada acara di kampus saya sendiri, Teknik, yang tengah mengadakan acara pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Teknik 2011 (maafkan aku, sob..).

Diawali lantunan merdu ayat-ayat Qur’an. Dilanjutkan dengan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan lagu daerah Jawa Barat,  “Manuk Dadali”. Kemudian penampilan tari khas NAD yang membuat tangan ini bertepuk berkali-kali. Benar-benar, ketiganya membuat haru. Saya senyum-senyum sendiri melihat mereka (saya datang sendiri dari Teknik dan belum sempat berbincang dengan peserta yang duduk di samping saya), saking senangnya.

Tak cukup sampai di sini, ketika Bapak Gathot H. S.-salah seorang guru ilmu struktur (dosen struktur) yang memang merangkap sebagai Pembantu Dekan Bagian Kemahasiswaan- memberikan sambutan, bertambah lagi senyum ini, suka sekali. Sambutannya saya nilai biasa-biasa saja secara umum tapi menjadi luar biasa bagi saya (beginilah kalo membicarakan seseorang yang difans, hehe..).

Masuk pada inti..
Ada tiga pembicara yang meneruskan ilmunya pada kami para peserta. Pembicara pertama lebih menitikberatkan pada manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari dengan contoh-contoh sederhana. Seperti saat belanja, memasak bahkan peluang mendapatkan pacar (Lho??? Hehehe..). Mulai dari usia anak-anak, remaja hingga dewasa. 

Pembicara kedua menyampaikan hal yang lebih khusus, yakni penyandian. Dikatakan bahwa penyandian telah dilakukan sejak zaman Julius Caesar untuk kepentingan surat menyurat pada masa itu. Kemudian sistem ini berkembang sebagai sistem pengaman informasi (dalam badan agen rahasia, perbankan, dsb). Metode penyandian pun ada beberapa macam di antaranya sandi geser, metode matriks dan metode RSA serta ada pula yang menggabungkan ketiganya.

Pembicara ketiga, sebagaimana pembicara kedua, menyampaikan hal khusus yakni perumusan secara matematik dari kejadian alam yakni gelombang laut dengan amplitudo ekstrim. Sehingga dari rumusan ini dapat dihitung perkiraan gelombang ekstrim yang akan terjadi dengan gelombang awal yang diketahui. Dan tentunya perumusan ini juga dibandingkan dengan pemodelan laborat untuk mengetahui seberapa jauh perbedaan yang terjadi.

Sebagaimana tema yang diangkat “Mathematics for Life”, matematika untuk kehidupan. Ketiga pembicara menyampaikan kegunaan matematika yang aplikatif dalam keseharian. Baik itu dalam hal sederhana, seperti yang disampaikan oleh pembicara pertama, maupun hal yang perlu pemikiran khusus bagi yang akan menggunakannnya seperti disampaikan oleh pembicara kedua dan ketiga.

Ada hal menarik yang muncul lewat ketiga macam bahasan ini...
Matematika adalah induk dari ilmu (juga disampaikan oleh semua pembicara mengenai hal ini), oleh Gauss disebutkan bahwa “Matematika adalah ratu ilmu...” sebagaimana saya kutip pada awal tulisan. Sebagai induk atau ratu tentunya matematika merupakan ilmu yang sangat sangat sangat istimewa. Ia akan dibutuhkan oleh banyak ilmu lain. Tak hanya ilmu alam seperti yang terkutip di awal penulisan, melainkan seluruh ilmu baik sains maupun sosial.

Kekecewaan yang muncul dari saya sebagai seorang yang merasa butuh akan pengetahuan matematika adalah pada seminar ini tema “Mathematics for Life” tidak diseminarkan secara utuh. Ketiga pembicaraan hanya mengenai bagaimana matematika digunakan dalam keseharian (bukan kehidupan). 

Matematika digunakan oleh anak-anak saat jajan, oleh ibu-ibu saat belanja, oleh koki saat meracik komposisi masakan, oleh ekonom sebagai penghitung keuntungan, oleh agen rahasia sebagai pembentuk atau pemecah kode, oleh peneliti sebagai pencarian alternatif pada suatu hal dan, bla bla bla lainnya.

Ini terkesan menunjukkan bahwa matematika hanya sebagai alat pembahasaan kejadian yang kita hadapi. Bagaimana suatu keuntungan dibahasakan? Jika pendapatan dikurangi pengeluaran adalah lebih dari nol. Bagaimana sistem pengamanan dibahasakan? Dengan sandi-sandi yang tersusun dari angka-angka. Bagaimana kejadian alam dibahasakan? Dengan penurunan rumus berdasar teori-teori yang lagi-lagi muncul sebab pembahsaan yang lebih tua. Kalau sudah begini dapatkah dikatakan matematika sebagai ratu dan bahasa sebagai raja ilmu?

Semua cabang ilmu (selain bahasa dan matematika) membutuhkan bahasa dan matematika dalam pemahamannya. Dan antara bahasa dan matematika pun seharusnya ada hubungan erat ini. Yang -entah dengan sadar atau tak sadar- telah disampaikan oleh para pembicara dalam seminar ini dari satu sisi saja. Menjadikan matematika sebagai bahasa atau pembahasaan dengan matematika. Tapi tidak disampaikan tentang membahasakan matematika.

Perlukah pembahasan tentang membahasakan matematika? Tentu perlu. Terlebih dengan tema “Mathematics for Life” yang diusung. Sebagai induk ilmu atau ratu ilmu, matematika tidak cukup hanya menjadi alat pembahasaan, tapi jauuuuuh dari ini matematika pun harus dimaknakan dalam kehidupan (membahasakan matematika).

Sebagai contoh, saya mengutip satu catatan unik dari seorang kawan (entah, buah pikirnya sendiri atau bukan):
“Dalam matematika, dikenal konsep transformasi linier yang bekerja pada sebuah vektor dengan panjang dan arah tertentu. Pada umumnya, transformasi tersebut mengubah baik panjang maupun arahnya. Dari sekian banyak vektor-vektor yang bertransformasi, dimungkinkan ada satu atau lebih vektor yang terhadap transformasi tersebut hanya mengalami perubahan panjang tetapi tidak dengan arahnya. Vektor tersebut dinamakan sebagai vektor eigen, dan faktor perubahan panjangnya dinamakan harga eigen. Eigen sendiri berasal dari bahasa Jerman yang berarti "diri".
Bayangkan, sebuah bangsa yang mengalami transformasi budaya akibat serbuan budaya asing misalnya. Secara umum dapat diduga bahwa arah perkembangan bangsa tersebut akan mengalami perubahan, atau dengan kata lain arah "vektor" -nya dapat berubah terhadap transformasi budaya. Kecuali jika "vektor" bangsa tersebut merupakan "vektor eigen"-nya, sehingga tidak berubah arahnya.
Patut direnungkan bahwa sebuah bangsa yang besar dan memiliki identitas diri yang jelas adalah bangsa yang berada dalam keadaan vektor eigennya....dan sudah barang tentu terkait dengannya terdapat sebuah "harga eigen" (baca: harga diri).
Mungkin dapat kita balik...jika sebuah bangsa memiliki "harga eigen" maka ia berada dalam keadaan "vektor eigen"-nya...
Bagaimana dengan bangsa kita?......Wallahu a’lam”.....
(Azwansyah, Sipil 09)
Jadi, menjadikan matematika sebagai bahasa saja belum cukup dalam kita memahami ilmu matematika. Sekali lagi; ilmu saling berkaitan satu sama lain. Sudahkah kita membahasakan matematika dalam kehidupan yang sekilas tak ada hubungannya dengan matematika seperti kutipan di atas?
Jika kalian bertanya pada saya tentang hal ini, maka jawabnya: BELUM.
***

“Adalah benar bahwa seorang matematikawan, yang agaknya bukan penyair, tidak akan pernah menjadi matematikawan yang sempurna” (K. Weierstrass) (2)
***

Ilmu yg satu adalah menjadi penguat ilmu yg lain. Dan masing2nya selalu berujung pada hal yg satu, Yang Maha Sempurna.. Yang Maha Ilmu.. Wallaahu a’lam.
Dan marilah menjadi penyair, membahasakan matematika dalam bahasa kehidupan...
Kamar Kost, 17-10-11
___________________________________
Kutipan (1) dan (2) diambil dari buku Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 2 dengan judul asli Calculus With Analytic Geometry (Edwin J. Purcell dan Dale Varberg)